BAHASA ROH: ALKITAB, IMAN, DAN PENGALAMAN
Apa yang muncul dalam pikiran anda saat mendengar istilah “bahasa roh”? Mungkin anda akan langsung mengidentikkannya dengan gereja Kristen Pentakosta atau Karismatik. Mungkin anda akan membayangkan sebuah kata-kata doa yang aneh. Atau mungkin anda akan menghubungkannya dengan suatu suasana ibadah yang emosional yang jelas berbeda dengan tata ibadah Kristen Protestan yang serba seremonial dan tertib.
Sementara itu, tidak sedikit dari orang Kristen yang mengkaitkan masalah bahasa roh itu dengan aliran sesat. Bahasa roh itu dianggap mirip dengan doa mantera-mantera dalam okultisme. Atau mirip dengan orang yang kerasukan arwah dan berbicara menurut tuntunan roh-roh jahat.
Masalah bahasa roh telah lama menjadi perdebatan. Seringkali menimbulkan efek perpecahan dalam Tubuh Kristus. Ketidaklenturan kekristenan untuk menerima sebagian komunitasnya yang “berpraktek bahasa roh” telah menyebabkan munculnya aliran baru. Sementara itu aliran kaum berbahasa roh yang semula dianggap sampingan (pheriperal stream) itu kini telah berkembang pesat. Bahkan menjadi arus utama (mainstream) baru yang secara kualitas rohani – seperti kebanyakan kasus arus utama lainnya – mulai merosot.
Masalah bahasa roh itu sendiri akan menjadi clear jika dibahas menurut apa kata Alkitab. Di sisi lain, berbahasa roh bukan sebuah pengalaman akademis karena tak terkait dengan ketrampilan psikologis. Berbeda dengan ketrampilan berbahasa Inggris atau Mandarin, misalnya, yang dipelajari secara kognitif-psikomotorik. Berbahasa roh adalah kemampuan illahi yang diimpartasikan secara supranatural oleh Roh Kudus. Bisa berbahasa roh itu artinya mengalami mujizat illahi. Semata-mata merupakan pengalaman adikodrati yang hanya bisa dipahami dan diterima dengan iman.