A. WHAT

BAHASA ROH DALAM ALKITAB

Bahasa roh atau bahasa lidah atau speaking in tongues (speak with tongue; speak by tongue; the gift of tongues), yang juga disebut sebagai bahasa baru atau bahasa lain, adalah sebuah karunia yang di dalam bahasa Yunani (Perjanjian Baru) disebut glossolalia. Banyak bagian Alkitab PB yang menjelaskan tentang karunia ini

Mrk 16:15-17: Pergilah kamu ke seluruh bumi, beritakanlah Injil itu kepada segala mahluk…. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya…mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa baru bagi mereka.

Kis 2:4: Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Kis 10:46: Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.

1 Kor 12:10b: Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

1 Kor 14:2: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata dengan manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

1 Kor 14:4-5: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

1 Kor 14:13-14: Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.

1 Kor 14:15: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

1 Kor 14:18: Aku (Paulus) mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari kamu semua.

1 Kor 14:26: Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh….

1 Kor 14:27: Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.

1 Kor 14:39: Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.

BAHASA ROH: ANTARA GLOSSOLALIA & XENOLALIA

Para penafsir Alkitab dari kalangan Pentakosta/Karismatik sering membedakan antara glossolalia dan xenolalia. Bahasa roh sebagai glossolalia menunjuk pada bahasa roh yang bahasanya tidak bisa dimengerti oleh manusia karena merupakan bahasa rahasia yang diilhamkan langsung oleh Roh Kudus.

Adapun bahasa roh sebagai fenomena xenolalia adalah bahasa roh yang diilhamkan Roh Kudus sehingga bersifat supranatural, namun bisa dimengerti oleh manusia. Tujuan pemberian karunia ini adalah dalam rangka memuliakan Tuhan. Contoh kasusnya adalah pada peristiwa Hari Pentakosta yang dilaporkan oleh Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul 2:1-13 sebagai berikut: Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka, lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: ”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: ”Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: ”Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

BAHASA ROH SEBAGAI KARUNIA

Yang jelas, bahasa roh (baik glossolalia maupun xenolalia) bersifat karunia supranatural yang diilhamkan Roh Kudus, bukan sebagai suatu ketrampilan berbahasa karena proses belajar. Paulus menegaskan hakikat bahasa roh sebagai karunia dalam 1 Kor 12:10b (Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu).

Sebagai karunia supranatural, bahasa roh diilhamkan oleh Roh Kudus seperti ditegaskan Lukas dalam Kis 2:4 (Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya). Jadi, sekalipun ada yang bisa dimengerti maknanya (xenolalia), tetap merupakan bahasa yang diilhamkan Roh Kudus secara langsung dan adikodrati (lihat kategori WITNESS)

BAHASA ROH PROFETIS: PESAN RAHASIA YANG DITAFSIRKAN

Bahasa roh terkadang bersifat nubuatan (mengandung pesan profetis untuk membangun jemaat). Bahasa roh menjadi sebuah nubuatan jika diikuti dengan karunia menafsirkan bahasa roh seperti dikatakan Paulus dalam 1 Kor 14:4-5 (Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun).

BAHASA ROH SEBAGAI KAPASITAS ROHANI

Paulus mengatakan dalam 1 Kor 14:15 sebagai berikut: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

Dari apa yang dikatakan itu, Paulus menunjukkan adanya 3 unsur manusia (tubuh, jiwa, dan roh). Jiwa dapat berkembang dengan proses belajar, sehingga bisa memiliki berbagai kompetensi yang salah satunya adalah berbahasa. Adapun roh, kapasitasnya dikembangkan secara supranatural sedemikian rupa oleh Roh Kudus sehingga mempunyai kompetensi untuk berbahasa roh dalam berdoa dan memuji Tuhan.

Jadi, kemampuan berbahasa roh merupakan suatu karya Roh Kudus yang menghidupkan dan memampukan unsur roh kita sedemikian rupa sehingga bisa berkomunikasi dengan Tuhan (doa dan pujian) secara supranatural.

BAHASA ROH: TANDA KEPENUHAN ROH?

Doktrin dari beberapa aliran Pentakosta/Karismatik menyatakan bahwa kemampuan illahi/karunia berbahasa roh merupakan tanda bahwa seseorang telah dipenuhi Roh Kudus atau dibaptis dengan Roh Kudus. Beberapa rujukan ayatnya adalah sebagai berikut:

Kis 2:4: Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Kis 10:44-46: Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan banyak pemberitaan itu. Dan semua orang yang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.

Kis 19:6: Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.

Tetapi, kebanyakan penafsir Alkitab tidak menemukan data signifikan yang mengidentikkan bahasa roh dengan kepenuhan Roh. Billy Graham (Roh Kudus: Kuasa Allah dalam Hidup Anda, Bandung: LLB, 1985) mengatakan, “Karunia lidah tidak perlu disetarakan dengan dipenuhi Roh. Kita mungkin saja dipenuhi dengan Roh tetapi tidak pernah berkata-kata dalam bahasa lidah. Pemenuhan Roh dapat mengakibatkan banyak pengalaman yang berbeda di dalam hidup kita.”

Kecuali itu, keadaan dipenuhi Roh menunjuk pada suatu kondisi orang percaya yang dipenuhi sifat-sifat Roh Kudus (buah Roh, kasih dan karakter Kristus). Sementara banyak orang Kristen berbahasa roh masih hidup dalam dosa dan hawa nafsu kedagingan. Keadaan dipenuhi Roh merupakan suatu tataran kehidupan rohani yang lebih tinggi daripada sekedar dimampukan untuk ber(karunia) bahasa roh!

B. WHO

PARA RASUL

Para rasul waktu itu jelas diberi karunia bahasa roh. Hal itu dapat terlihat dari laporan Lukas tentang peristiwa Pentakosta dalam Kis 2:1-6: Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka, lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

Paulus sendiri mengatakan bahwa ia berbahasa roh lebih dari jemaat. Katanya, “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari kamu semua” (1 Kor 14:18).

GEREJA ERA PERJANJIAN BARU

Gereja pada era Perjanjian Baru jelas diberi karunia bahasa roh, dan bahkan karunia-karunia supranatural yang lainnya. Fakta itu dapat dibuktikan dari bagaimana Paulus menjelaskan dengan panjang lebar tentang karunia bahasa roh itu dan tentang penerapan karunia tersebut secara korporat maupun individual. Terlihat jelas dari ayat-ayat berikut ini.

1 Kor 12:10b: Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

1 Kor 14:2: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata dengan manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

1 Kor 14:4-5: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

1 Kor 14:13-14: Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.

1 Kor 14:15: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

1 Kor 14:18: Aku (Paulus) mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari kamu semua.

1 Kor 14:26: Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh….

1 Kor 14:27: Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.

1 Kor 14:39: Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.

TIDAK SEMUA ANAK TUHAN

Peter Wagner mendefinisikan karunia Roh Kudus sebagai sebagian kemampuan supranatural yang diberikan Tuhan kepada bagian dari tubuh Kristus untuk melakukan pelayanan dan pembangunan Tubuh itu bagi kemuliaan Tuhan. Makanya, Roh Kudus mendistribusikan karunia-karunia itu ke berbagai orang percaya: ada yang diberi karunia ini dan ada yang diberikan karunia itu (1 Kor 12:7-11).

Jika mengacu pada konsep tentang karunia Roh dan Tubuh Kristus itu, berarti dimungkinkan bahwa seorang percaya tidak mendapatkan karunia bahasa roh namun memperoleh karunia Roh yang lainnya. Hal itu sama dengan karunia kesembuhan, tidak semua orang diberi karunia kesembuhan, bukan?

Dengan demikian tidak perlu kecil hati jika belum atau tidak diberi karunia berbahasa roh. Tuhan memakai setiap orang berbeda-beda sesuai dengan kehendak Roh Kudus.

SIAPA SAJA YANG MERINDUKAN

Tetapi, di sisi lain Paulus mengatakan, ”Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat” (1 Kor 14:1). Artinya, karunia-karunia Roh – termasuk karunia bahasa roh – harus diusahakan, diupayakan, dirindukan untuk diperoleh dari Roh Kudus. Dari perintah ini dapat disimpulkan bahwa karunia-karunia Roh (termasuk bahasa roh) dapat diperoleh setiap orang percaya jika benar-benar merindukannya.

Meskipun Paulus menekankan pentingnya memiliki kerinduan untuk berkarunia nubuat, Paulus sebenarnya juga mendorong kerinduan kita untuk berbahasa roh. Hal itu terlihat dari nilai penting bahasa roh yang dijelaskan Paulus. Pertama, bahasa roh berguna untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara supranatural (1 Kor 14:2). Kedua, bahasa roh sangat berguna untuk membangun iman sendiri (1 Kor 14:4). Ketiga, bahasa roh berguna membangun jemaat bila ditafsirkan dengan karunia menafsirkan bahasa roh (1 Kor 14:5). Keempat, bahasa roh berguna untuk mengembangkan kehidupan doa dan pujian-pemyembahan yang dinamis (1 Kor 14:14-15). Dengan demikian, bahasa roh sangat penting dan bermanfaat sehingga harus diusahakan untuk memperolehnya dari Roh Kudus.

C. WHEN

SEJAK GEREJA BERDIRI: PENTAKOSTA

Gereja Tuhan berdiri sejak Roh Kudus yang dijanjikan Kristus itu (Kis 1:4-8) dicurahkan (Kis 2:1-13). Pemberian karunia bahasa Roh menjadi bagian integral dari peristiwa Pencurahan Roh Kudus tersebut. Roh Kudus dan karunia-karunia Roh (termasuk bahasa roh) terus bekerja sejak itu sampai masa gereja berakhir ketika orang-orang percaya diangkat (rapture) menyambut Yesus di awan-awan pada akhir jaman (lihat lebih jauh di http://www.yesusdatang2012.wordpress.com).

Peristiwa Pencurahan Roh Kudus yang mengawali berdirinya gereja itu dicatat oleh Lukas dalam Kis 2:1-13 sebagai berikut: Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka, lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: ”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: ”Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: ”Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

SEPANJANG MASA GEREJA

Sejak Pentakosta (Kis 2) sampai akhir jaman (kedatangan Kristus kedua kali), Roh Kudus dan karunia-karunia Roh terus bekerja, termasuk bahasa roh. Hanya, memang terjadi kemerosotan setelah beberapa ratus tahun masa gereja pertama berlalu. Namun, seperti dicatat dalam Dictionary of Pentacostal and Charismatic Movements (1996) dan “Roh Kudus” (diktat pengajaran Bethany School Ministry) fenomena bahasa roh terus muncul dari masa ke masa sebagai berikut:

Gerakan Montanisme pada abad ke-2. Nabiah Montanus mengembangkan aliran karismatik (mengajarkan soal Baptisan Roh Kudus) yang ditentang gereja induk saat itu. Aliran ini menentang ajaran baptisan bayi dan menentang ajaran Gnostik. Montanus mengajarkan pentingnya pengkudusan, penyangkalan diri, bahasa roh, dan nubuat.

Gerakan karismatik pada abad ke-4 oleh bapa-bapa gereja seperti Yustinus Martir, Irenaeus, Tertulianus, Origenes Ambrosius, dan Augustinus. Mereka mengajarkan kehidupan yang dipimpin Roh Kudus dan pelayanan dengan karunia-karunia Roh dan bahasa roh.

Gerakan oleh Waldens dan Albigenses pada abad ke-13. Di tengah masa kegelapan kekristenan, mereka tetap mengajarkan praktek karunia-karunia Roh Kudus.

Pelayanan Vincent Ferrer pada abad ke-14 disertai dengan mujizat-mujizat illahi. Ia menjadi misionaris yang melayani ke Spanyol dan Eropa Barat. Ferrer juga berbahasa roh.

Kaum Hugenot di Perancis pada abad ke-16. Karena ketekunan kerohanian, mereka dianiaya oleh gereja utama yang bersifat tradisional. Namun, dalam pelarian mereka ke gunung-gunung, mereka mengalami banyak karya Roh Kudus, mujizat-mujizat, dan bahasa roh.

Kelompok Yansenist dan Quakers pada abad ke-17 mengembangkan kehidupan kekristenan seperti gereja pertama. Mereka beribadah tanpa liturgi namun mengalir dalam pimpinan Roh Kudus. Mereka berdoa dan memuji dalam bahasa roh.

Edward Irving pada abad ke-19 adalah seorang pendeta Presbiterian Skotlandia yang mengalami kepenuhan Roh dan berbahasa roh saat bersama Dr. Henry Drummond mempelajari Eskatologi (lihat eskatologi di http://www.yesusdatang2012.wordpress.com).

D. L. Moody, penginjil terkenal itu dikabarkan menerima baptisan Roh Kudus saat melayani penginjilan di Inggris.

Charles Finney, pengkotbah KKR dan pelopor revival itu mengalami jamahan Roh Kudus. Saat bergumul dalam doa di hutan, ia mengalami kepenuhan Roh Kudus seperti disengat aliran listrik yang dahsyat.

Richard Spurling adalah seorang pendeta Gereja Baptis yang lalu mendirikan grup sendiri pada 1886 di Cherokee County North Carolina, AS. Pada 1896 grup ini mengadakan KKR dan banyak orang dibaptis Roh Kudus serta berbahasa roh. Ini kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Church of God.

Charles Fox Parham mendirikan seminari Alkitab Stone’s Folly di Topeka, Kansas, AS. Setelah ia menyuruh para mahasiswanya belajar tentang Pentakosta, seorang mahasiswinya (Agnes Ozman) mengalami kepenuhan Roh Kudus dan berbahasa roh. Parham sendiri akhirnya berbahasa roh dan ia mengajarkan hal itu ke seluruh dunia hingga lahirlah gerakan pelayanan dan gereja-gereja Pentakosta sedunia.

HUJAN AWAL & HUJAN AKHIR

Beberapa panafsir Pentakosta, misalnya Ariel Edvardsen, meyakini janji Tuhan yang disebut sebagai ”hujan awal” dan ”hujan akhir”. Konsep itu bertolak dari Firman Tuhan dalam Yoel 2:23-25 sebagai berikut: Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena Tuhan, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak. Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim di antara kamu.

Hujan awal itu ditafsirkan sebagai Pencurahan Roh Kudus pada masa awal berdirinya gereja (gereja pertama pada jaman para rasul dan gereja-gereja yang dicatat dalam Perjanjian Baru). Sedangkan hujan akhir ditafsirkan sebagai Pencurahan Roh Kudus pada akhir jaman. Sejarah memang mencatat adanya eskalasi pencurahan dan kegerakan Roh Kudus sejak tahun 1900-an (Charles Parham, William Seymour) sampai sekarang menjelang kedatangan Kristus kedua kali.

Akhir jaman, sebelum pengangkatan (rapture, lihat http://www.yesusdatang2012.wordpress.com) memang ditandai dengan pencurahan Roh Kudus yang luar biasa (Kis 2:17-18).

BAHASA ROH AKAN BERHENTI

Paulus mengingatkan akan masa berhentinya karunia bahasa lidah dalam surat 1 Kor 13:8-10: Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Hal itu berbicara tentang berakhirnya masa gereja. Setelah gereja diangkat (rapture, lihat http://www.yesusdatang2012.wordpress.com) maka kita akan berjumpa langsung dengan Kristus. Kita tidak lagi memerlukan kuasa dan karunia-karunia supranatural karena kita sudah menyatu dengan Yang Sempurna itu. Kehidupan masa depan itu hanya diliputi kasih yang sempurna saja.

D. WHERE

BERBAHASA ROH DI PERTEMUAN JEMAAT (IBADAH)

Di mana bahasa roh bisa digunakan? Menurut Paulus, karunia bahasa roh bisa dipakai di dalam pertemuan-pertemuan ibadah. Hal itu terlihat dari pesan-pesan Paulus tentang peraturan dalam pertemuan jemaat dalam surat 1 Korintus 14:26-40: Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. Tentang nabi-nabi – baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. Karunia nabi tunduk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

Pertama, bahasa roh dipakai dalam ibadah sebagai suatu bentuk persembahan. Paulus mengatakan, ”Bilamana kamu berkumpul…mempersembahkan karunia bahasa roh” (! Kor 14:26)

Kedua, bahasa roh bisa diungkapkan di forum ibadah jika merupakan ilham dari Roh Kudus yang diikuti dengan pemberian penafsirannya sehingga berguna untuk membangun iman bersama. Paulus mengatakan, ”Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya” (1 Kor 14:27).

Ketiga, bahasa roh juga dapat digunakan dalam ibadah untuk kepentingan doa masing-masing secara pribadi kepada Tuhan. Paulus mengatakan, ”Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah” (1 Kor 14:28)

Keempat, jangan melarang orang berbahasa roh dalam ibadah. Paulus menegaskan, ”Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:39).

Kelima, berbahasa roh dalam ibadah harus dilakukan dengan tertib dan sopan. Paulus memperingatkan, ”Segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Kor 14:40).

BERBAHASA ROH BISA DI MANA SAJA

Karena bahasa roh merupakan bentuk doa pribadi kepada Tuhan (1 Kor 14:2) maka kita bisa berdoa dengan bahasa roh itu di mana saja. Adanya pemberian berupa karunia bahasa roh meneguhkan perintah supaya orang percaya berdoa setiap saat (Ef 6:18). Doa Kristen bukan doa tradisi agamawi, bukan pembacaan kalimat-kalimat doa yang dihafalkan, bukan upacara, tetapi hubungan pribadi dengan Tuhan. Dengan karunia bahasa roh, kita dapat terus menerus berkontak dengan Tuhan. Bahkan ketika jiwa (pikiran, perasaan) kita sedang sibuk, kita tetap bisa berhububungan roh dengan Tuhan dengan karunia bahasa roh itu.

BERHIKMAT: JANGAN DI SEMBARANG TEMPAT

Bahasa roh pada dasarnya adalah bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Paulus menjelaskan (1 Kor 14:2): Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya: oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

Jadi, kalau ada orang yang belum tahu (paham) tentang bahasa roh, ia akan menganggap kita yang berbahasa roh aneh atau gila. Tentunya tidak jadi masalah kalau kita dianggap aneh, gila, sesat, dan jahat sekalipun – itu resiko mengikut Yesus. Tetapi, masalahnya, tindakan kita berbahasa roh di tempat yang tidak tepat bisa menjadi batu sandungan. Makanya Paulus menganjurkan supaya lebih baik kita tidak berbahasa roh manakala ada orang yang belum tahu. Paulus mengatakan, ”Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” (1 Kor 14:23).

Terkadang orang-orang Kristen karismatik kurang berhikmat. Sebagai contoh, saat mengadakan Ibadah Oikumene antar gereja, ketika orang-orang karismatik memimpin acara itu (berkotbah, memimpin pujian, berdoa, dll), langsung dengan berbahasa roh. Akibatnya, saudara-saudara Kristen lain yang belum berbasa roh (misalnya dari kalangan Protestan) langsung menjadi syak. Maka tidak heran jika gara-gara ibadah seperti itu kesatuan Tubuh Kristus menjadi sangat sulit terjadi.

Ada sebuah cerita lucu namun konyol. Dalam sebuah pesta pernikahan yang dihadiri banyak orang dari berbagai agama, seorang yang dikenal sangat Kristen karismatik diminta berdoa. Lalu dengan gagahnya ia maju dan berdoa. Dalam situasi demikian, meskipun kita tetap berdoa dengan cara Kristen, semestinya dengan hikmat. Misalnya dengan mengatakan, “Bapak dan ibu sekalian, kita akan berdoa untuk mempelai berdoa. Mohon yang tidak sama dengan keyakinan kami, mendukung dalam doa menurut agama masing-masing.” Tetapi tidak demikian dengan si karismatik itu. Dengan lantang ia berkata keras, “Bapak ibu saudara, perkenankanlah saya menyampaikan doa….ho ra pa sanda rama saka ….” (berbahasa roh). Pastinya semua hadirin menjadi syak dan hal itu sama sekali tidak memberi kesaksian yang baik tentang kekristenan.

E. WHY

MENGAPA PERLU BERBAHASA ROH?

Pertama, bahasa roh adalah janji Yesus yang diberikan-Nya berkaitan dengan tugas Amanat Agung. Yesus memberi perintah dengan sangat jelas, “Pergilah kamu ke seluruh bumi, beritakanlah Injil itu kepada segala mahluk…. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya…mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa baru bagi mereka” (Mrk 16:15-17).

Kedua, bahasa roh adalah karya Roh Kudus dalam Gereja. Hal itu dinyatakan sejak pertama gereja berdiri. Pencurahan Roh Kudus dan pemberian karunia bahasa roh merupakan titik awal perkembangan Gereja. Lukas mencatat sejarah mula-mula gereja itu sebagai berikut: Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya (Kis 2:4).

Ketiga, bahasa roh diberikan Roh Kudus dalam rangka menumbuhkan pelayanan di dalam Gereja. Paulus menjelaskan dalam 1 Kor 12:4-5, 10 sebagai berikut: Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

Keempat, berbahasa roh merupakan kehendak Tuhan. Paulus menegaskan, ”Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:5). Paulus juga mengatakan, ”Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh” (1 Kor 14:39).

Kelima, berusaha untuk memperoleh karunia Roh (termasuk karunia bahasa roh) adalah wujud pertumbuhan rohani yang baik. Paulus menegaskan, ”Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh” (1 Kor 14:1).

Keenam, bahasa roh merupakan kemampuan rohani untuk berkomunikasi secara pribadi dengan Tuhan. Paulus menjelaskan dalam 1 Kor 14:2 sebagai berikut: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata dengan manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Dengan demikian jika kita ingin bertumbuh dalam hubungan pribadi dengan Tuhan, kita perlu diperlengkapi dengan karunia bahasa roh ini.

Ketujuh, bahasa roh sangat berguna untuk membangun iman pribadi. Paulus menegaskan dalam 1 Kor 14:4 sebagai berikut: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri. Dengan demikian karunia bahasa roh mempunyai fungsi teramat strategis untuk memacu pertumbuhan rohani indivdu.

Kedelapan, bahasa roh berguna membangun jemaat bila ditafsirkan dengan karunia menafsirkan bahasa roh. Paulus menjelaskan hal itu dalam 1 Kor 14:5 sebagai berikut: Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

Kesembilan, bahasa roh berguna untuk mengembangkan kehidupan doa dan pujian-pemyembahan yang dinamis. Paulus menjelaskannya dalam 1 Kor 14:15 sebagai berikut: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

F. HOW

CARA: MENERIMA DENGAN IMAN

Bahasa roh adalah bahasa illahi yang diberikan secara supranatural oleh Roh Kudus. Jadi, ini bukan ketrampilan berbahasa sebagai hasil proses belajar secara manusiawi. Pada waktu para rasul mendapat bahasa roh, prosesnya semata-mata bersifat adikodrati. Mereka tidak berpikir lebih dulu sebelum melontarkan kata-kata dari lidahnya. Tiba-tiba saja kata-kata rahasia itu meluap dari hati dan keluar melalui mulut kita yang diurapi.

Dengan demikian sama seperti waktu kita mendapatkan mujizat kesembuhan atau mujizat lainnya, kita membutuhkan iman. Adapun iman itu adalah keyakinan yang tumbuh dari pendengaran akan firman Tuhan (Rom 10:17). Karena kita mendengar dan membaca bahwa di Alkitab ada bahasa roh maka kita percaya akan hal itu. Jika kita percaya akan hal itu, kita akan menerima bahasa roh itu sebagai sebuah mujizat supranatural.

CARA: MEMINTA DENGAN KERINDUAN

Roh Kudus dan hal-hal berkenaan dengan Dia perlu diminta melalui doa yang penuh kerinduan. Yesus mengajarkan itu dalam Injil Lukas 11:9-13 sebagai berikut: Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya meminta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya!”

Jadi, untuk perkara Roh Kudus, meminta-mencari-mengetok merupakan sebuah prosedur standar. Tuhan ingin supaya kita aktif dengan kerinduan penuh. Prinsip itu juga ditekankan saat para murid menantikan Pencurahan Roh Kudus. Mereka diharuskan untuk menanti-nantikan janji Bapa (Kis 1:4). Dan, mereka pun melakukannya dengan tekun (Kis 1:14 – Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama….).

CARA: MENGUSAHAKAN SECARA ROHANI

Tentang Karunia Roh Kudus, Paulus menekankan supaya kita aktif mengusahakannya (1 Kor 14:1 – Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat). Dalam bahas aslinya, untuk kata “usahakanlah dirimu memperoleh karunia Roh” dipakai kata dzayloo yang berarti menginginkan, merindukan, desire (ingin), earnestly (men-seriusi), zealous (antusias, semangat).

Jadi, untuk mendapatkan karunia-karunia Roh, Tuhan menuntut kita untuk mengejarnya dengan habis-habisan. Itulah sebabnya gereja-gereja yang mengejar karunia-karunia Roh diberi oleh Tuhan. Gereja-gereja Pentakosta yang senantiasa berdoa dan berpuasa selama 10 hari menjelang perayaan Pentakosta dibangkitkan dan diurapi oleh Tuhan. Hamba-hamba Tuhan yang bertekun dalam doa, puasa, iman, dan perjuangan rohani untuk mendapatkan urapan akan benar-benar diberi kuasa illahi oleh Roh Kudus. Sementara gereja-gereja lama yang suam yang santai-santai saja – jika terus demikian – selamanya tidak akan menerima kuasa dan karunia-karunia Roh Kudus.

Pencurahan Roh Kudus yang terjadi pada masa pelayanan Charles Parham yang kemudian dikenal sebagai “Bapak Pentakosta Dunia” juga merupakan hasil perjuangan rohani. Di seminari binaannya, Stone’s Folly, Parham meminta semua mahasiswa mempelajari masalah Roh Kudus melalui penyelidikan atas Kitab Kisah Para Rasul. Semua mahasiswa bersemangat dan menjadi sangat rindu akan Roh Kudus dan bahasa roh. Mereka lalu menggelar acara Kebaktian Semalam Suntuk yang diikuti 75 orang di kampus tersebut. Pada acara itu, mahasiswi bernama Agnes Ozman didoakan oleh Parham dan mengalami kepenuhan Roh dan berbahasa roh. Peristiwa itu mendorong mahasiswa-mahasiswa lain semakin haus akan Roh Kudus. Apa yang mereka lakukan? Beberapa dari mereka memindahkan tempat-tempat tidur mereka dari asrama di lantai atas ke ruang doa. Selama 3 hari 2 malam, sekolah itu menanti-nantikan Roh Kudus. Ketika kemudian Parham meninjau ruang doa itu, ia mendapati para mahasiswa itu sedang berdoa berbahasa roh karena Roh Kudus telah melawat mereka. Lalu, Parham pun bersimpuh dan kemudian Roh Kudus juga memenuhinya. Katanya, “Saat itu juga kata-kata saya agak berubah, kemuliaan turun atas diri saya dan saya mulai menyembah Tuhan dalam bahasa Swedia dan kemudian berubah menjadi bahasa-bahasa lain dan terus berlanjut” (Charles Parham, The Life of Charles Parham, Birmingham: Comercial Printing Company, 1930, halaman 54).

CARA: MENGGUNAKAN DENGAN BAIK DAN BENAR

Jika Roh Kudus sudah memberi kita karunia bahasa roh, kita bisa menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Paulus mengajarkan dalam 1 Kor 14:2-4: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata dengan manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.

Karunia bahasa roh juga bisa dipakai dalam pertemuan jemaat. Paulus mengajarkan aturan mainnya sebagai berikut dalam surat 1 Korintus 14:26-40: Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. Tentang nabi-nabi – baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. Karunia nabi tunduk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

Kemudian, penggunaan bahasa roh harus komprehensif. Kita berdoa dan memuji Tuhan dengan bahasa roh, tetapi juga dengan akal budi. Paulus memberi pengajaran dalam 1 Kor 14:15: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

Beberapa orang karismatik sangat ”nge-roh”. Maunya bahasa roh melulu. Menganggap doa dengan akal budi itu rendah. Hal itu karena pikiran mereka sempit dan tidak berorientasi pada pelayanan yang penuh hikmat dan strategi (band. 1 Kor 14:23).

G. WARNING

BAHASA ROH: BUKAN HASIL BELAJAR, BUKAN HAFALAN

Di sebuah gereja, pernah diadakan latihan berbahasa roh. Pendetanya menuliskan kata-kata tertentu – misalnya “la-la-la-ma-ra-ka-la-la-….” – di papan tulis. Lalu jemaat, diajak melafalkannya bersama-sama. Katanya, itu dilakukan untuk memancing supaya bahasa rohnya keluar dari roh kita.

Praktik demikian SESAT. Dan, sangat berbahaya karena iblis bisa mencuri kesempatan. Sebab, bahasa roh adalah Karunia Roh yang diberikan secara supranatural oleh Roh Kudus saja. Bahasa roh itu diilhamkan Roh Kudus. Bahasa roh bukan bahasa manusia yang dipelajari atau dihafalkan!

AWAS, BAHASA ROH PALSU!

Dalam berbagai agama/kepercayaan lain, termasuk okultisme, juga ada bahasa roh. Berarti, ada bahasa roh yang asli dari Roh Kudus, ada yang hasil rekaan manusia (seperti contoh di atas), dan ada yang dari iblis. Orang yang belum dilayani pelepasan (pengusiran setan), sekali pun KTP-nya Kristen bisa saja berbahasa roh namun bukan dari Roh Kudus. Dalam hal inilah kita harus sangat berhati-hati dan harus meminta karunia membedakan roh (1 Kor 12:10 – makanya karunia membedakan bermacam-macam roh ini berkaitan dengan karunia bahasa roh dan karunia menafsirkan bahasa roh).

KARISMA VERSUS KARAKTER

Banyak orang Kristen berkarunia, berbahasa roh dan bahkan mengadakan mujizat-mujizat, namun karakternya amburadul. Makanya Paulus menyusun pembahasan soal Roh Kudus itu dengan urutan pertama ”Rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh” (1 Kor 12), kemudian kedua tentang ”Kasih” (1 Kor 13), dan ketiga mengenai ”Sekali lagi tentang Karunia Roh” (1 Kor 14). Itu mirip konstruksi roti hamburger: bagian atasnya ”karunia”, dan bagian bawahnya ”karunia”. Tengahnya, ”kasih” (bagian terlezat karena ada daging dan bumbu). Demikianlah kekristenan dinilai dari kasih (karakternya). Meskipun karunianya besar atau banyak, namun tidak ada kasih, itu sama seperti hamburger isi batu. Makanya banyak orang merasakan kepahitan dengan kekristenan kita.

Paulus menegaskan bahwa tanpa kasih maka semua karunia menjadi sia-sia (1 Kor 13:1-3). Karena itu Paulus juga menegaskan supaya kita mengejar kasih dulu dan baru mengusahakan karunia (1 Kor 14:1).

BAHASA ROH BUKAN KUNCI KESELAMATAN

Keselamatan Kristen (soteriologi) diperoleh jika kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi (lihat lebih jauh di http://www.smartforchrist.wordpress.com kategori SELAMAT & BERTUMBUH). Jadi, mendapat karunia bahasa roh adalah bagian dari pertumbuhan di dalam iman kepada Kristus dan bukan syarat dari keselamatan itu. Jiika ada hamba Tuhan yang mengajarkan bahwa siapa yang tidak berbahasa roh tidak selamat, itu sama sekali tidak Alkitabiah. Bahasa roh adalah karunia Roh yang berkaitan dengan pertumbuhan rohani pribadi (1 Kor 14:4) dan pelayanan (1 Kor 12:10).

BAHASA ROH DAN KEKUDUSAN

Banyak orang Kristen karismatik meremehkan kekudusan. Mereka berkarunia, berbahasa roh, tetapi tidak hidup suci. Hal itu memang sudah terjadi pada jaman jemaat di Korintus. Jemaat waktu itu penuh karunia namun hidupnya berdosa.

Kekristenan adalah kehidupan yang suci, itulah panggilan kita. Kekristenan bukan kemampuan supranatural semata-mata, tetapi kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Sejarah pencurahan Roh Kudus di era modern sebenarnya menunjukkan bagaimana kehendak Tuhan. Sebelum terjadi gerakan Pentakosta yang meledak pada tahun 1900-an, lebih dulu muncul gerakan kesucian (holiness movement). Sejarah itu menunjukkan bagaimana Tuhan menghendaki proses yang benar, yaitu hidup suci dulu dan baru kemudian menerima Roh Kudus dan diurapi Tuhan. Adapun gerakan karismatik sekarang – tentu tidak semua – kurang menekankan kehidupan suci karena lebih menekankan aspek entertainment dan pertumbuhan kuantitas semata.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.