A. WHAT

BAHASA ROH DALAM ALKITAB

Bahasa roh atau bahasa lidah atau speaking in tongues (speak with tongue; speak by tongue; the gift of tongues), yang juga disebut sebagai bahasa baru atau bahasa lain, adalah sebuah karunia yang di dalam bahasa Yunani (Perjanjian Baru) disebut glossolalia. Banyak bagian Alkitab PB yang menjelaskan tentang karunia ini

Mrk 16:15-17: Pergilah kamu ke seluruh bumi, beritakanlah Injil itu kepada segala mahluk…. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya…mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa baru bagi mereka.

Kis 2:4: Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Kis 10:46: Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.

1 Kor 12:10b: Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

1 Kor 14:2: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata dengan manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

1 Kor 14:4-5: Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

1 Kor 14:13-14: Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.

1 Kor 14:15: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

1 Kor 14:18: Aku (Paulus) mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari kamu semua.

1 Kor 14:26: Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh….

1 Kor 14:27: Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.

1 Kor 14:39: Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.

BAHASA ROH: ANTARA GLOSSOLALIA & XENOLALIA

Para penafsir Alkitab dari kalangan Pentakosta/Karismatik sering membedakan antara glossolalia dan xenolalia. Bahasa roh sebagai glossolalia menunjuk pada bahasa roh yang bahasanya tidak bisa dimengerti oleh manusia karena merupakan bahasa rahasia yang diilhamkan langsung oleh Roh Kudus.

Adapun bahasa roh sebagai fenomena xenolalia adalah bahasa roh yang diilhamkan Roh Kudus sehingga bersifat supranatural, namun bisa dimengerti oleh manusia. Tujuan pemberian karunia ini adalah dalam rangka memuliakan Tuhan. Contoh kasusnya adalah pada peristiwa Hari Pentakosta yang dilaporkan oleh Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul 2:1-13 sebagai berikut: Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka, lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: ”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: ”Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: ”Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

BAHASA ROH SEBAGAI KARUNIA

Yang jelas, bahasa roh (baik glossolalia maupun xenolalia) bersifat karunia supranatural yang diilhamkan Roh Kudus, bukan sebagai suatu ketrampilan berbahasa karena proses belajar. Paulus menegaskan hakikat bahasa roh sebagai karunia dalam 1 Kor 12:10b (Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu).

Sebagai karunia supranatural, bahasa roh diilhamkan oleh Roh Kudus seperti ditegaskan Lukas dalam Kis 2:4 (Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya). Jadi, sekalipun ada yang bisa dimengerti maknanya (xenolalia), tetap merupakan bahasa yang diilhamkan Roh Kudus secara langsung dan adikodrati (lihat kategori WITNESS)

BAHASA ROH PROFETIS: PESAN RAHASIA YANG DITAFSIRKAN

Bahasa roh terkadang bersifat nubuatan (mengandung pesan profetis untuk membangun jemaat). Bahasa roh menjadi sebuah nubuatan jika diikuti dengan karunia menafsirkan bahasa roh seperti dikatakan Paulus dalam 1 Kor 14:4-5 (Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun).

BAHASA ROH SEBAGAI KAPASITAS ROHANI

Paulus mengatakan dalam 1 Kor 14:15 sebagai berikut: Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.

Dari apa yang dikatakan itu, Paulus menunjukkan adanya 3 unsur manusia (tubuh, jiwa, dan roh). Jiwa dapat berkembang dengan proses belajar, sehingga bisa memiliki berbagai kompetensi yang salah satunya adalah berbahasa. Adapun roh, kapasitasnya dikembangkan secara supranatural sedemikian rupa oleh Roh Kudus sehingga mempunyai kompetensi untuk berbahasa roh dalam berdoa dan memuji Tuhan.

Jadi, kemampuan berbahasa roh merupakan suatu karya Roh Kudus yang menghidupkan dan memampukan unsur roh kita sedemikian rupa sehingga bisa berkomunikasi dengan Tuhan (doa dan pujian) secara supranatural.

BAHASA ROH: TANDA KEPENUHAN ROH?

Doktrin dari beberapa aliran Pentakosta/Karismatik menyatakan bahwa kemampuan illahi/karunia berbahasa roh merupakan tanda bahwa seseorang telah dipenuhi Roh Kudus atau dibaptis dengan Roh Kudus. Beberapa rujukan ayatnya adalah sebagai berikut:

Kis 2:4: Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Kis 10:44-46: Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan banyak pemberitaan itu. Dan semua orang yang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.

Kis 19:6: Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.

Tetapi, kebanyakan penafsir Alkitab tidak menemukan data signifikan yang mengidentikkan bahasa roh dengan kepenuhan Roh. Billy Graham (Roh Kudus: Kuasa Allah dalam Hidup Anda, Bandung: LLB, 1985) mengatakan, “Karunia lidah tidak perlu disetarakan dengan dipenuhi Roh. Kita mungkin saja dipenuhi dengan Roh tetapi tidak pernah berkata-kata dalam bahasa lidah. Pemenuhan Roh dapat mengakibatkan banyak pengalaman yang berbeda di dalam hidup kita.”

Kecuali itu, keadaan dipenuhi Roh menunjuk pada suatu kondisi orang percaya yang dipenuhi sifat-sifat Roh Kudus (buah Roh, kasih dan karakter Kristus). Sementara banyak orang Kristen berbahasa roh masih hidup dalam dosa dan hawa nafsu kedagingan. Keadaan dipenuhi Roh merupakan suatu tataran kehidupan rohani yang lebih tinggi daripada sekedar dimampukan untuk ber(karunia) bahasa roh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: